Muhasabah

 

Mengapa Tidak Mudah Memberi Maaf

Dalam keseharian entah kita sadari atau tidak, kita sering mengucapkan kata maaf kepada siapapun atas segala kesalahan yang telah kita perbuat. Kelihatannya tak terlalu sulit kita mohonkan permintaan maaf kepada orang lain, BUKAN! Tetapi pernahkah terbersit dalam pikiran bahwa memberikan maaf lebih sulit ketimbang sekedar mengumbar permintaan maaf dari orang lain. Mengapa ?

Bila kita cermati di saat orang lain menggoreskan sedikit saja luka, kita seringkali menyukai untuk menyimpannya dalam bagian hati hingga menimbulkan warna sebagian rongganya berwarna lebih pekat. Atau kita menyimpannya di setiap detak jantung ketimbang membiarkannya pergi berlalu. Yang lebih celaka kita bahwa enggan melepas dan mendekapnya berlama2 hingga tanpa disadari memudahkan jalan pikiran untuk membalas menggapai pikiran.

Jika kita sadari benar, memendam luka atas kesalahan orang lain akan membuat jiwa seakan terikat belenggu kekesalan, kemarahan, kesakitan yang lambat laun menjadikan lemahnya hati untuk merdeka. Bagaikan selembar kertas putih, kita membiarkan tinta-tinta hitam kegeraman hati menitikan noda-noda di hamparan kesuciannya. Memang tak mudah melupakan luka yang begitu membekas di lorong-lorong jiwa kita, terlebih kita hal itu begitu menyakitkan. Tetapi apakah kita akan terus membiarkan hati dihantui perasaan kecewa dan sedih hingga keresahan hadir mengelilingi alam pikiran.

Berusahalah untuk mengikis perlahan kristal-kristal hitam kecewaan dengan membuka sedikit-sedikit pintu maaf untuk orang lain. Biarkan keikhlasan hati menelurusi dengan lorong-lorong jiwa tanpa tersendat menuju kebersihan hati..

Ribuan maaf bisa kita mohonkan, tetapi mengapa satuan maaf tidak dapat kita berikan. Itu sebuah pilihan, bukan! (MY)

 

 

Belajar dari Ulat

Bagi penggemar tanaman atau yang memiliki hobi berkebun, seringkali menemukan binatang yang menjengkelkan, dimana dedaunan muda yang tumbuh segar, menjadi tak beraturan dan bolong-bolong bahkan habis dan tinggal tangkainya saja. Ternyata setelah kita perhatikan ada hewan yang biasanya berwarna hijau, sehijau dedaunan untuk kamu flase, binatang tersebut adalah ulat.

Ulat adalah salah satu binatang yang sangat rakus dalam melahap hijaunya dedaunan tanaman yang kita sayangi. Rasa marah yang sangat bila kita jumpai tanaman kesayangan kita telah habis dedaunannya, bahkan hanya tinggal ranting-ranting saja. Sedih dan marah rasanya karena usaha kita terasa terampas begitu saja karena ulah sang ulat.

Dibalik kekesalan dan rasa marah, pernahkah kita mencoba untuk melihat atau sedikit tertegun mengernyitkan dahi atas ulah sang ulat tersebut atau sebaliknya kita membunuhnya untuk melampiaskan kekesalan hati, setega itukah?

Hasil yang diakibatkan oleh ulah sang ulat memang sangat mengesankan bila dibanding dengan wujud ulat yang lemah dan lunak tubuhnya.

Melihat dari akibat yang dihasilkan maka dapat kita katakan bahwa karakter ulat adalah pekerja keras dalam menggunduli dedaunan tanaman kita, seakan-akan mereka seperti dikejar deadline dan harus buru-buru untuk menyelesaikan. Hasilnya sangat mengesalkan sekali buat kita, yaitu tanaman yang gundul dalam waktu yang relatif singkat dan sekali lagi sungguh mengesankan.

Dalam menjalani misinya sang ulat tak membiarkan sedikit waktu terbuang. Sang ulat baru berhenti ketika sampai pada saat yang ditentukan dimana ia harus berhenti makan untuk menuju ke dalam kondisi puasa yang keras. Puasa yang sangat ketat tanpa makan tanpa minum sama sekali, dalam lingkupan kepompong yang sempit dan gelap.

Pada masa kepompong ini terjadi sebuah peristiwa yang sangat menakjubkan, masa dimana terjadi transformasi dari seekor ulat yang menjijikkan menjadi kupu-kupu yang elok dan indahnya dikagumi manusia. Sang kupu-kupu yang terlahir seakan-akan menjadi makhluk baru yang mempunyai perwujudan dan perilaku yang baru dan sama sekali berubah.

Haruskah kita membiarkan begitu saja sebuah peristiwa yang sangat indah dan mengesankan ini, tentu tidak. Sebenarnya kita patut malu bila melihat tabiat ulat yang pekerja keras. Ulat seakan tak mempunyai waktu yang terluang dan terbuang sedikitpun. Waktu yang tersedia adalah waktu yang sangat berharga bagi ulat untuk menggemukkan badan sebagai persiapan menuju sebuah keadaan dimana diperlukan energi yang besar yaitu masa kepompong, seakan dikejar- kejar oleh deadline sehingga sang ulat tak pernah beristirahat ejenakpun untuk terus melahap dedaunan.

Berpacunya sang ulat dengan waktu, ternyata disebabkan sang ulat telah mempunyai sebuah tujuan yang sangat jernih dan jelas yaitu mengumpulkan semua potensi yang ada untuk menghadapi satu saat yang sangat kritis yaitu masa kepompong, dimana pada masa kepompong tersebut dibutuhkan persiapan yang prima. Datangnya masa kepompong adalah sebuah keniscayaan, maka sang ulat mempersiapkan dengan kerja keras untuk menghadapinya.

Sebuah persiapan diri dengan kerja keras dilakukan juga pada hewan- hewan yang mengalami musim dingin.Dimana untuk menghadapi masa sulit di musim dingin, banyak hewan yang melakukan hibernasi selama musim dingin di gua-gua atau liang-liang, agar terhindar dari ganasnya musim dingin. Agar tubuh tetap hangat dan tersedianya energi maka sebelum menjelang musim dingin, hewan-hewan tersebut akan menumpuk lemak sebanyak-banyaknya di dalam tubuhnya, untuk dipakai sebagai bekal dalam tidur panjangnya.

Lalu coba kita berkaca dan mereview diri kita, adakah semangat yang luar biasa selayaknya ulat yang telah menggunduli dedaunan, bukankah sebuah masa depan dan tanggung jawab yang begitu beratnya harus kita pikul dan tunaikan. Namun kita terbuai dan masih sering suka bermain- main, selayaknya tertipu oleh permainan yang sangat melenakan.

Masa-masa dalam kehidupan kita sebagai individu atau kelompok, pasti tak akan pernah luput dari masa yang menyenangkan dan kemudian digantikan masa-masa yang sulit, itu adalah sebuah kepastian, sepasti bergantinya musim hujan disongsong oleh musim kemarau yang memayahkan.

Janganlah kita terlena bahkan kalah dengan hewan yang bernama ulat yang mempunyai etos kerja unggul dan memiliki pola pandang yang jauh ke depan yang meniti masa depan tersebut dengan kerja keras, karena masa depan dengan kesulitan dan cobaan itu pasti akan datang dan menghampiri kita, maka persiapan yang matang dan kerja keras yang mampu menolong kita dan bukan kemalasan dan menunda-nunda pekerjaan.

 

 

Aku bukan JODOH yang baik untuknya

Ketika perpisahan terjadi antara dua orang yang saling mencintai, maka biasanya untuk menenangkan hati- masing-masing berkata ‘Dia bukan jodoh yang baik untukku, maka perpisahan adalah jalan yang terbaik bagi kami.
Kesedihan mendera secara subyektif tanpa introspeksi diri. Apakah dia memang bukan jodoh yang terbaik untuk Anda?
Beberapa hari ini aku menimbang dan menimbang terus menimbang mengenai “jodoh terbaik”
Teringatlah aku pada janji yang Maha Bijak
Bahwa manusia itu ditakdirkan berpasang-pasangan
Dan dicocokkan menurut pilihanNya
Kini, aku belajar mengintrospeksi diri
Bahwa barangkali peribahasa dia bukan jodoh yang baik untukku tidak sepenuhnya benar, kali ini aku mengakui justru aku bukan jodoh yang baik untuknya. Jadi, aku berbahagia karena dia menemukan yang lebih baik dariku!

 

 

Berbahagia Untuknya…PASTI!

Bagaimana jika seandainya orang yang masih sangat kamu cintai akan menikah dengan orang lain? Barangkali hati kita akan berkeping-keping adanya. Tapi, mendengar apa yang dikatakan oleh sahabatku bahwa DIA, seseorang yang sangat aku cintai hingga kini akan menikah. Aku merasa berbahagia!
Berbahagia untuknya sebab aku menyadari aku tidak mungkin dapat membahagiakannya seperti perempuan yang akan dinikahinya dan dia berhak mendapatkan kebahagiaan sebab aku telah telah banyak melakukan kesalahan padanya.
Tentu, jika waktu dapat diulang kembali aku akan memanfaatkan kebersamaan dengan sebaik yang aku bisa. Tapi semua telah terlambat, kini, buatku kebahagiaannya jauh lebih berharga.
Bagaimana dengan rasa cintaku? CIntaku akan tetap terukir indah dalam hati sebagai bagian kenangan manis yang tidak mungkin bisa dilupakan.
Cinta itu masih ada di sini, di hatiku. Tapi, sekali lagi. Aku berbahagia untuknya!!

 

 

 

“TO GIVE OR TO GET

Seorang pebisnis muda datang mengadukan masalahnya kepada sahabat

saya yang berprofesi sebagai konsultan spiritual bisnis.

Pebisnis itu membuka masalahannya dengan mengatakan, “Pak saya
memiliki adik yang sangat durhaka. Ketika kuliah saya yang membiayai.

Ketika dia menikah saya yang menikahkan dan menanggung semua biayanya.

Sekarang berbekal satu kwitansi atas namanya, dia akan menggugat
saya ke pengadilan.

Dalam gugatannya ia mengatakan rumah yang saya tempati adalah milik
adik saya.”

Pebisnis muda itu diam sejenak sambil menarik napas panjang.

Kemudian dia meneruskan ceritanya, “Padahal rumah itu saya beli
dengan tetesan keringat saya.
Saya nggak habis pikir, mengapa dia tega melakukan ini. Saya minta
petunjuk dari Bapak bagaimana menundukkan adik saya. Saya ingin agar
adik saya sadar dan tidak usah membawa permasalahan itu ke pengadilan.
Saya malu dengan banyak orang.”

Kemudian konsultan bertanya, “Dari mana uang yang kamu gunakan untuk
membangun rumahmu?” Orang itu menjawab, “Dari hasil jerih payah usaha
saya. Saya pernah punya usaha pom bensin tapi sekarang sudah bangkrut.”

Terus darimana modal usaha pom bensinmu? desak sang konsultan. Dia
terdiam.

Setelah menarik nafas panjang, dia berkata , “Modal usaha pom bensin
saya peroleh dari hasil penjualan tanah milik ibu saya.

Saya jual tanah itu tanpa izin ibu saya. Ibu saya kecewa, tak lama
setelah kejadian itu ibu saya
dipanggil Yang Maha Kuasa.”

“Itulah sebab musabab problem anda. Memulai usaha dengan uang yang
tidak bersih bahkan dengan cara menyakiti ibu kandung anda.
Ironisnya, anda belum sempat meminta maaf kepada ibu anda dan dia
sudah meninggal dunia,” jawab sang konsultan.

“Terus bagaimana saya selanjutnya?” kata orang itu.

Konsultan energik itu menjawab, “Ikhlaskan rumah itu buat adik anda.

Kehidupan anda tidak akan berkah dengan rumah yang merupakan buah
dari menyakiti ibu anda.”

Butiran jernih mengalir di pipi orang itu. Dengan nada tersengal dia
berkata, “Lalu dimana keluarga saya harus berteduh? Sang konsultan
menjawab, “Allah , Tuhan Penguasa Alam Maha Kaya, pasti ada jalan yang
akan Dia berikan.”

Sesampainya di rumah sang kakak memanggil adiknya, “Adikku daripada
kita bertengkar di pengadilan dan hubungan persaudaraan kita rusak
hanya karena rumah ini, aku serahkan rumah ini untukmu.

Aku ikhlas. Rumah ini sebenarnya milik ibu, bukan milik saya.
Mulai
hari ini, rumah ibu ini aku serahkan sepenuhnya untukmu.”

Sang adik berdiri dan kemudian memeluk sang kakak sambil berkata,
“Kakakku, rumah ini adalah rumahmu maka ambilah.

Saya tidak akan meneruskan di pengadilan. Tinggalah dengan damai di
rumah ini bersama istri dan anak-anak kakak.

Saya bangga menjadi adikmu. Saya tak ingin kehilangan engkau
kakakku…” Keduanya berpelukan dengan linangan air mata di
masing-masing pipinya.

Kisah nyata di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa ketika kita
berpikir apa yang akan saya dapatkan (to GET) maka yang kita peroleh
adalah kegelisahan dan permusuhan.

Sebaliknya ketika kita berpikir apa yang bisa saya berikan ( to GIVE
) maka yang kita peroleh kedamaian, rasa hormat, rasa cinta dan
persaudaraan.

Tatkala kita berpikir to GET pada hakekatnya kita masih TERJAJAH

Terjajah oleh harta, terjajah oleh jabatan, terjajah oleh
kepentingan dan terjajah oleh gengsi.


Orang-orang yang merdeka adalah orang yang di dalam dirinya tertanam
kuat sikap to GIVE

Bila ia memiliki harta, ilmu dan karunia lainnya ia selalu berpikir
kepada siapa lagi saya harus berbagi… berbagi…dan berbagi.


Negeri ini akan terus tumbuh, berkembang, maju dengan diselimuti
kedamaian, rasa cinta, persaudaraan, dan kemulian bila sebagian besar
diantara kita mengembangkan sikap to GIVE ketimbang to GET

Kita semua harus selalu berpikir, apa yang sudah saya berikan buat
anak, mitra kerja, perusahaan, pasangan hidup, saudara, orang tua,
bangsa dan Sang Maha Pencipta? Pertanyaan itu harus selalu tertanam
kuat dalam setiap aktivitas kita sehari-hari.

Jangan kedepankan to GET dalam sikap keseharian kita.

Pada saat sebagian besar orang memiliki sikap to GIVE kita sudah
boleh mengatakan bahwa kita memang sudah MERDEKA.

 

Komentar
  1. yugie mengatakan:

    Ass : Subhanallah….. artikelnya yang sangat bagus….

  2. aishcha mengatakan:

    ” Orang yang kau harapkan, orang yang datang padamu, dan orang yang akan mendampingimu kelak, belum tentu orang yang sama ”

    pake motto itu aja..insyaAllah hidup akan seperti air yang mengalir.. walaupun perlu tenaga Angin untuk sekali kali menciptakan Ombak

  3. rizal mengatakan:

    orang yang kamu cintai adalam orang yang bisa menerima kamu apa adanya

  4. Nia mengatakan:

    Subhanallah sangat inspirasi buat saya ^^, mau menanggapi ya….
    Sesungguhnya Allah sudah menetapkan setiap kejadian yang kita alami telah tertulis pada kitab Lauhul Mahfudz, begitu juga dengan Jodoh.

    dan Jodoh itu hanya Allah yang tahu kapan datangnya, tapi jangan takut kata Allah adalah laki-laki yang baik untuk wanita yang baik, begitu pula sebaliknya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s