Get Spirit

Membangun kepercayaan diri bagi sebagian orang dirasa sangat sulit sekali, ga pede, minder n berbagai perasaan lain yang seharusnya tidak terus menghinggapi. Semoga beberapa artikel di bawah ini dapat bermanfaat buat antum semua. CHAYOO SEMANGAT…!!

Cerita Tentang Rasa Percaya Diri

Temanku Whit adalah seorang pesulap profesional, dan ia disewa sebuah restoran di Los Angeles untuk bermain sulap tiap sore untuk menghibur pengunjung
restoran sementara mereka makan. Suatu sore ia menghampiri sebuah keluarga, dan setelah memperkenalkan diri, ia mengeluarkan setumpuk kartu dan mulai
beraksi. Ketika berhadapan dengan seorang gadis kecil yang duduk di meja tersebut, ia diberitahu bahwa Wendy, anak tersebut, adalah seorang gadis buta.
Whit menyahut,”Tak apa-apa. Kalau dia mau, saya ingin mencoba suatu tipuan sulap.” Sambil berbalik pada si anak, Whit berkata, “Wendy, kamu mau membantu
saya melakukan tipuan ini?”

Sambil malu-malu, Wendy mengangkat bahu dan berkata,”Mau” Whit duduk di kursi di seberang Wendy, lalu berkata, “Saya akan menunjukkan sebuah kartu, Wendy,
dan kartunya bisa berwarna merah dan hitam. Saya ingin kamu menggunakan kekuatan batinmu dan mengatakan apa warna kartu itu, merah atau hitam. Mengerti
kan?” Wendy mengangguk. Whit menunjukkan kartu raja keriting dan berkata, “Wendy, ini kartu merah atau kartu hitam?”

Sesaat kemudiaan, si anak buta menyahut,”Hitam”. Keluarga itu tersenyum. Whit mengangkat kartu tujuh hati dan berkata,”Ini kartu merah atau kartu hitam?”
Wendy berkata,”merah”
Lalu Whit mengangkat kartu ketiga, tiga wajik dan berkata,”merah atau hitam ?” Tanpa ragu-ragu, Wendy berkata,”merah !”. Keluarganya tertawa dengan gugup.
Whit mengangkat tiga kartu lagi dan Wendy menebak ketiganya dengan benar ! Keluarganya hampir tak percaya betapa jitu tebakannya.

Pada kartu ketujuh, Whit mengangkat lima hati dan berkata,”Wendy, saya ingin kamu menebak nilai dan jenis kartu ini. apakah hati, wajik, keriting atau
daun.” Sejenak kemudian, Wendy menyahut dengan yakin, “kartunya lima hati” Keluarganya menghembuskan napas yang tertahan.

Mereka tercengang ! Ayahnya menanyakan pada Whit apakah dia menggunakan tipuan atau sulap sungguhan. Whit menyahut, “Bapak harus tanya sendiri pada Wendy”
Si ayah berkata, “Wendy, bagaimana caranya?” Wendy tersenyum dan berkata. “Sulap!”. Whit berjabatan tangan dengan seluruh keluarga, memeluk Wendy,
meninggalkan kartu namanya, lalu mengucapkan salam perpisahan. Jelas ia telah menciptakan saat gaib yang tak kan pernah terlupakan oleh keluarga itu.

Pertanyaannya, tentu, bagaimana Wendy tahu warna kartu itu ? karena Whit belum pernah bertemu Wendy sebelum peristiwa di restoran itu, ia tentu tak bisa
memberi tahu sebelumnya kapan ia akan mengeluarkan kartu merah atau kartu hitam. dan karena Wendy buta, tak mungkin ia bisa melihat warna atau nilai kartu
saat Whit menunjukkannya. jadi bagaimana caranya?

Whit mampu menciptakan mukjijat sekali seumur hidup ini dengan menggunakan kode rahasia dan berpikir cepat. Pada awal kariernya, Whit menciptakan kode kaki
untuk menyampaikan informasi kepada orang lain tanpa kata2. Ia belum sempat menggunakan kode itu sampai peristiwa di restoran itu. Saat Whit duduk di
seberang Wendy dan berkata,” Saya akan menunjukkan sebuah kartu, Wendy, dan kartunya bisa merah atau hitam,” ia mengetuk kaki Wendy (di bawah kaki meja)
sekali saat ia berkata “merah” dan dua kali saat ia mengatakan “hitam”.

Untuk meyakinkan bahwa Wendy mengerti, ia mengulang tanda rahasia itu dengan berkata, “Saya ingin kamu menggunakan kekuatan batinmu dan katakan, apa warna
kartu itu, merah (tuk) atau hitam (tuk tuk). Kamu mengerti?” Waktu Wendy mengangguk, ia tahu bahwa Wendy sudah mengerti kodenya dan mau ikut bermain.
Keluarganya menganggap waktu Whit bertanya apakah Wendy “mengerti,” dia merujuk perintah lisannya. Bagaimana ia memberitahu kartu lima hati pada Wendy ?
Sederhana. Ia mengetuk kaki Wendy lima kali untuk memberitahu bahwa kartunya bernilai lima. Waktu ia menanyakan apakah kartunya hati, daun, keriting atau
wajik, ia memberitahu jenisnya dengan mengetuk kaki Wendy pada saat ia mengatakan “hati”.

Sulap atau keajaiban sesungguhnya dari cerita ini adalah efeknya pada Wendy. PERISTIWA ITU BUKAN HANYA MEMBERINYA KESEMPATAN UNTUK BERSINAR SEJENAK DAN
MERASA ISTIMEWA DI DEPAN KELUARGANYA, TAPI JUGA MEMBUATNYA MENJADI SEORANG BINTANG DI RUMAH. DIA YANG SELAMA INI MERASA MENJADI BEBAN DALAM KELUARGANYA,
KINI MERASA SEJAJAR DENGAN MEREKA KARENA PERISTIWA ITU.

Beberapa bulan setelah kejadian itu, Whit menerima sebuah paket dari Wendy. Isinya satu set kartu Braille, bersama sepucuk surat. Di dalam surat itu, Wendy
berterima kasih karena Whit telah membuatnya merasa istimewa, dan menolongnya “melihat” untuk beberapa saat. WALAUPUN HINGGA SAAT ITU WENDY TETAP TIDAK
BISA MELIHAT, NAMUN SULAP WHIT TELAH MENUMBUHKAN KEPERCAYAN DIRINYA YANG SELAMA INI HILANG. Wendy menutup isi suratnya dengan berkata bahwa ia ingin Whit
menerima kartu braille tersebut supaya ia bisa memikirkan sulap lain untuk orang buta.

Sumber: Disadur dari Chicken Soup for The Soul

MENCARI PEMIMPIN
yang mempunyai Integritas

Suatu hari seorang Raja mengumpulkan para pembantunya; para Gubernur, Bupati, Walikota, Camat, Lurah, Kepala Desa, RT, RW, bahkan hingga masyarakat umum. Siang itu sang Raja berpidato di lapangan luas di depan khalayak; “Wahai para pembantuku dan masyarakat sekalian. Hari ini aku ingin membuka sayembara untuk mencari calon pengganti Perdanamenteri yang baru saja meninggal dunia sebagai pemimpin di wilayah ini. Maka, barangsiapa yang siap, bersedia dan berani menjadi Perdanamenteri harap secepatnya mendaftar ke sekretariat. Silahkan isi dengan lengkap data diri kalian, pengalaman kerja serta visi dan misi ke depan dalam rangka membangun wilayah menuju keadilan dan kesejahteraan bersama”, tegas sang Raja.

Singkat cerita, menurut catatan yang terdaftar ada sekitar 11 (sebelas) nama. Satu persatu surat itu dibaca langsung oleh Raja. Dari 11 (sebelas) nama itu terpilih hanya 3 (tiga) nama, dan itupun dari kalangan muda (sekitar umur 25-35 tahun). Kemudian sang Raja kembali mengumpulkan para pembantunya dan masyarakat umum. ”Hari ini kita berkumpul lagi dalam rangka mendengarkan visi dan misi calon Perdanamenteri. Perlu saya sampaikan ada 11 (sebelas) nama yang terdaftar, tetapi hanya 3 (tiga) nama yang terpilih, yang pertama; Amir umur 30 tahun, yang kedua; Aziz umur 35 tahun, dan yang ketiga; Shodiq umur 25 tahun”.

Setelah menyampaikan visi dan misinya, kemudian sang Raja memberikan kepada ketiga orang pemuda tersebut masing-masing sebuah kotak berisi mangkuk bunga dan sebutir biji gandum. Pesan sang Raja; ”Biji ini harus dijaga hingga ia tumbuh tunasnya kemudian sirami dan rawatlah hingga tumbuh subur. Tiga bulan kemudian kalian bawa pohon gandum itu, sekaligus untuk menetapkan siapa yang pantas untuk menjadi Perdanamenteri”, begitulah pesan sang Raja. Akhirnya ketiga pemuda dan masyarakatpun membubarkan diri, mereka berharap ada Perdanamenteri baru yang sesuai dengan harapan mereka nanti.

Sampailah pada waktu 3 bulan yang ditunggu, masyarakat kembali berkumpul mereka ingin mengetahui siapa calon pemimpin yang akan menggantikan Perdanamenteri. Sambil duduk dipanggung kehormatan, sang Raja tersenyum manis sambil mengangguk-anggukkan kepalanya karena ia telah menerima 2 (dua) pohon Gandum yang tumbuh subur nan indah, hasil karya Amir dan Aziz. Dengan sabar beliau menunggu pohon gandum yang satu lagi yang di amanahkan kepada Shodiq.

Shodiq tadinya tidak mau datang menghadiri pengumuman pemenang calon pengganti Perdanamenteri, karena ia takut sang Raja kecewa dan marah, sebab biji gandum yang dititipkan padanya justru membusuk. Tetapi, dia mendapat dorongan motivasi dari sang ibunda yang bijaksana, ”Wahai anakku, datanglah menghadap Raja, sampaikan apa sebenarnya yang terjadi, ingatlah jangan sekali-kali engkau berdusta, karena dusta itu tandanya orang munafiq, Tuhan maha tahu apa yang engkau rasakan dan sembunyikan”, begitulah pesan sang bunda.

Akhirnya, dengan perasaan takut, ragu dan sedikit harapan, ia memberanikan diri menghadiri pengumuman dan menghadap sang Raja. Dengan penuh cemoohan dan ejekan dari kedua lawannya dan masyarakat umum, ia naik ke panggung menghadap sang Raja sambil membawa pot berisi biji gandum yang membusuk sembari menangis; ”Maafkan saya wahai Tuan Raja, saya tidak bisa menjaga amanah yang dititipkan oleh paduka, gimana nanti kalau saya diamanahi menjadi Perdanamenteri dengan menjaga sekian juta masyarakat mungkin saya akan lebih besar khianatnya kepada mereka …..”.

Semakin menjadilah ejekan dan cemoohan masyarakat, bahkan ada yang berkata; ”Dia itu memang tidak mampu menjaga amanah, buktinya satu biji gandum saja tidak becus menjaganya, gimana nanti kalau sudah menjadi Perdanamenteri, kami yang akan menjadi korban pengkhianatannya……” sambil dibenarkan oleh yang lainnya.

Sang Raja yang penyabar mendengar ocehan masyarakat seperti itu spontan marah dan membentak, ”Diam kalian, kalian tidak tahu siapa sebenarnya si Shodiq ini. Perlu kalian ketahui bahwa biji Gandum yang aku berikan kepada tiga orang ini sudah saya rebus terlebih dahulu, sehingga mustahil gandum itu bisa tumbuh. Maka saya menyimpulkan bahwa biji gandum kedua orang ini (si Amir dan si Aziz) pasti diganti dengan yang lain sehingga ia tumbuh. Beginilah cara orang yang ingin mendapatkan jabatan, apapun ia lakukan tidak peduli harus berdusta maupun berkhianat. Oleh karena itu, saya memutuskan maka Shodiq-lah yang akan menggantikan Perdanamenteri sebagai pemeimpin kalian. Ia telah berlaku jujur pada dirinya dan tidak berdusta padaku dan kalian semua”, tegas sang Raja.


Memang, saat ini mencari orang yang memiliki Integritas teramat sangat sulit, karena mereka terikat dengan kepentingan yang lain, entah itu parpol, keluarga maupun organisasi lainnya, sehingga memaksa setiap orang harus berbuat curang, padahal kita percaya bahwa setiap orang itu pada dasarnya memiliki sifat jujur, tetapi…………… seperti inilah kehidupan di dunia.

Keikhlasan Kaum Anshar
Penulis : Ratu Karitasurya

Di Ji’ranah, Rasulullah SAW sedang membagikan harta hasil perang Hunain. Tokoh-tokoh Quraisy diberi banyak harta, misalnya Shafwan bin Umayyah diberi 300 ekor unta dan domba. Dia pun kontan masuk Islam (HR. Shahih Muslim). Banyak lagi bekas musuh Rasul dijatah masing-masing puluhan kilogram perak dan ratusan ekor ternak.

Tapi, tak satupun kaum Anshar menerimanya. Mereka kesal, terutama kaum mudanya. Pemimpinnya, Sa’ad bin Ubadah segera menghadap Nabi. Mendengar kekecewaan mereka, Rasul menyuruhnya mengumpulkan semua kaum Anshar.

Setelah mereka berkumpul, Rasul bersabda, “Wahai kaum Anshar, desas-desus apakah yang sampai padaku? Apakah kalian marah kepadaku? Bukankah ketika aku hijrah kalian masih tersesat, lalu Allah memberi hidayah kepada kalian melalui aku? Bukankah kini kalian kaya, padahal sebelum kedatanganku kekurangan? Kalian pun saling berperang, lalu Allah mempersatukan kalian karena aku?”

Semuanya menjawab, “Benar, Allah dan RasulNya yang lebih pemurah dan lebih utama jasanya.”

Karena mereka hanya menjawab demikian, Rasul pun bertanya, Mengapa kalian tidak mau membalas perkataanku?”

“Demi Allah,” lanjut Rasulullah SAW, “Kalau mau, kalian tentu bisa membalasnya. Itu pasti dibenarkan. Kalian bisa katakan, “Anda datang ketika didustakan orang, maka kamilah yang mempercayai. Ketika anda diusir, kami yang membela. Kala anda diburu, kami yang melindungi.” Wahai kaum Anshar, mengapa kalian jengkel karena tak menerima sampah dunia itu? Apakah kalian tidak rela ketika orang lain pulang bersama onta dan domba, kalian pulang ke Madinah bersama Rasulullah?”

Seketika mengalirlah air mata kaum Anshar. Lenyaplah kejengkelan. Bangkitlah kembali keikhlasan. Bahwa walau merekalah yang lebih berjasa dibanding penerima harta, mereka puas hanya dengan jatah akhirat.

Kini, banyak manusia membongkar kesalahan, mempublikasikan data penyelewengan dana, atau memunculkan beragam masalah baru, tampaknya bukan untuk melenyapkan kedzaliman, melainkan agar kemungkaran dirinya sendiri tertutupi. Atau, dia mendapat simpati, jabatan, dan harta beberapa tahun lagi.

Mestinya kita berkaca, amalan kaum Anshar tak berhenti di retorika. Meski sampai mengorbankan nyawa membela Islam dan negara, mereka tetap merasa diri mereka bukan paling berjasa, sehingga paling layak tuk berharta dan berkuasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s